DABO SINGKEP — Sebuah nama produk tidak selalu harus menggunakan kata yang lazim. Dalam dunia identitas merek, sebuah ejaan dapat diciptakan untuk memberikan karakter, mudah dikenali, dan memiliki cerita tersendiri.

Prinsip tersebut menjadi dasar lahirnya JHIT SA GO – 135, identitas produk kretek dari PT. Cabang Tiga Kretek.

Filosofi Produk

JHIT SA GO bukan sekadar susunan huruf. Ia merupakan ejaan kreatif yang dibangun untuk memberikan identitas tersendiri terhadap angka 135.

Mengapa JHIT SA GO?

Nama JHIT SA GO menggunakan pendekatan ejaan kreatif. Tujuannya bukan untuk mengikuti penulisan kata secara konvensional, melainkan membentuk sebuah nama yang memiliki karakter visual dan bunyi tersendiri.

Dengan demikian, ketika konsumen melihat tulisan JHIT SA GO – 135, angka 135 dan nama produk menjadi satu identitas yang saling berkaitan.

JHIT SA GO adalah ejaan kreatif untuk identitas angka 135. Angka tersebut menjadi bagian utama dari sistem penamaan produk.

Makna di Balik 135

Angka 135 tidak ditempatkan secara acak. Angka tersebut menjadi bagian dari filosofi identitas yang dibangun oleh PT. Cabang Tiga Kretek.

1 Satu

Satu identitas dan satu arah dalam membangun produk.

3 Tiga

Terhubung dengan identitas Cabang Tiga Kretek.

5 Lima

Lima sebagai simbol kesempurnaan cita-cita brand.

Mengapa Tidak Menggunakan Ejaan Biasa?

Salah satu ciri utama JHIT SA GO adalah keberanian menggunakan ejaan yang tidak biasa ditemukan dalam penamaan produk.

Pendekatan tersebut sengaja digunakan agar nama produk memiliki signature tersendiri. Ketika ditulis pada kemasan, JHIT SA GO – 135 memiliki bentuk visual yang berbeda dan mudah dibedakan sebagai identitas merek.

Karakter Kretek JHIT SA GO

Di balik identitas visualnya, JHIT SA GO dibangun dengan pendekatan rasa kretek yang memiliki karakter kuat.

Produk ini tidak diarahkan menjadi kretek dengan karakter yang terlalu ringan. Profil yang ingin ditonjolkan adalah karakter tembakau yang terasa dan aroma cengkeh yang lebih menonjol.

Karakter Tembakau

Profil tembakau dirancang memberikan kesan yang lebih penuh dan berbobot pada karakter kretek.

Cengkeh Lebih Terasa

Cengkeh menjadi salah satu karakter utama sehingga aroma dan sensasi rempah lebih mudah dikenali.

Profil Kretek Kuat

Perpaduan tembakau dan cengkeh diarahkan menghasilkan karakter kretek yang lebih tegas.

Identitas Tradisional

Karakter cengkeh mempertahankan hubungan produk dengan tradisi kretek Indonesia.

EXTRA CLOVE

Konsep Extra Clove menjadi bagian dari positioning karakter produk, dengan penekanan pada kehadiran cengkeh sebagai salah satu unsur rasa dan aroma utama.

Apa yang Dimaksud dengan Extra Clove?

Istilah Extra Clove digunakan untuk menggambarkan karakter produk yang memberikan perhatian lebih terhadap unsur cengkeh dalam profil kreteknya.

Cengkeh bukan sekadar pelengkap. Dalam konsep produk ini, karakter cengkeh menjadi bagian penting dari pengalaman aroma dan rasa yang ingin ditampilkan.

Karena itu, JHIT SA GO diposisikan sebagai kretek dengan karakter yang lebih tegas, terutama bagi konsumen dewasa yang memang menyukai profil kretek dengan cengkeh yang lebih terasa.

Mengapa Harga Rp8.000?

Harga merupakan bagian dari positioning sebuah produk. Pada JHIT SA GO, harga Rp8.000 ditetapkan dengan mempertimbangkan karakter produk, bahan baku, proses produksi, kemasan, serta posisi produk yang ingin dibangun di pasar.

Harga Produk
Rp8.000
Posisi harga yang dirancang selaras dengan karakter dan identitas produk.

Dengan demikian, angka Rp8.000 bukan sekadar angka pada label harga. Harga tersebut menjadi bagian dari strategi positioning JHIT SA GO sebagai produk dengan identitas kretek yang kuat dan karakter yang jelas.

Dari Dabo Singkep, Membawa Cerita Warisan

Identitas PT. Cabang Tiga Kretek tidak dapat dipisahkan dari cerita Dabo Singkep sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dengan pertambangan timah.

Warisan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa visual melalui penggunaan warna emas, ornamen sejarah, serta simbol-simbol yang terhubung dengan identitas timah dan geografis Singkep.

DNA JHIT SA GO – 135

01 Warisan sejarah Dabo Singkep
02 Identitas PT. Cabang Tiga Kretek
03 Filosofi angka 135
04 Lahirnya identitas JHIT SA GO
05 Kretek dengan karakter cengkeh yang lebih menonjol

Mengapa Kemasan Menggunakan Emas, Merah, dan Hitam?

Warna kemasan JHIT SA GO dirancang untuk memperkuat hubungan antara produk, sejarah, dan karakter kretek.

  • 01 Emas — merepresentasikan warisan timah, nilai sejarah, dan kemewahan.
  • 02 Merah — memberikan energi, keberanian, dan karakter yang kuat.
  • 03 Hitam — memberikan kesan klasik, tegas, dan berwibawa.
  • 04 Ornamen sejarah — menghubungkan produk dengan cerita Dabo Singkep dan identitas perusahaan.

Bukan Sekadar Nama

JHIT SA GO – 135 dirancang sebagai sebuah identitas yang memiliki beberapa lapisan cerita sekaligus.

Ada angka 135, ada ejaan kreatif JHIT SA GO, ada karakter kretek dengan cengkeh yang lebih terasa, dan ada hubungan dengan sejarah Dabo Singkep.

Seluruh unsur tersebut ditempatkan dalam satu identitas agar produk tidak hanya dikenali berdasarkan nama, tetapi juga berdasarkan cerita yang melekat di belakangnya.

JHIT SA GO – 135

Ejaan kreatif. Identitas angka 135.

Karakter kretek. Profil tembakau yang lebih berbobot dengan karakter cengkeh yang lebih terasa.

Warisan Dabo Singkep. Inspirasi sejarah yang diterjemahkan menjadi identitas modern.

Sebuah Nama dengan Cerita

Pada akhirnya, JHIT SA GO – 135 merupakan upaya PT. Cabang Tiga Kretek untuk menciptakan identitas produk yang memiliki karakter sendiri.

Nama tersebut tidak dipilih hanya karena terdengar berbeda. Ia dibangun dari konsep angka, ejaan kreatif, karakter kretek, cengkeh, serta identitas sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan perusahaan.

JHIT SA GO – 135

Satu identitas.

Tiga karakter utama.

Lima simbol filosofi.

Dari warisan Dabo Singkep, lahir identitas kretek baru.

Produk tembakau mengandung zat adiktif. Merokok meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Produk ini hanya ditujukan untuk konsumen dewasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(Redaksi)